Uraikan Penentuan Garis Keturunan Yang Dianut Beberapa Masyarakat Hukum Adat Di Indonesia

Source: bing.com Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat kaya. Salah satu hal yang menarik adalah adanya masyarakat yang masih menjalankan hukum adat. Hukum adat ini

Fatah

Uraikan Penentuan Garis Keturunan Yang Dianut Beberapa Masyarakat Hukum Adat Di Indonesia

Uraikan Penentuan Garis Keturunan Yang Dianut Beberapa Masyarakat Hukum Adat Di IndonesiaSource: bing.com

Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat kaya. Salah satu hal yang menarik adalah adanya masyarakat yang masih menjalankan hukum adat. Hukum adat ini mengatur berbagai hal dalam kehidupan masyarakat, termasuk penentuan garis keturunan. Berikut ini adalah penjelasan mengenai penentuan garis keturunan yang dianut beberapa masyarakat hukum adat di Indonesia.

1. Suku Batak

Suku BatakSource: bing.com

Suku Batak di Sumatera Utara memiliki sistem penentuan garis keturunan yang disebut dengan marga. Setiap orang Batak memiliki marga yang sama dengan ayahnya. Jadi, jika seorang pria Batak memiliki marga Simanjuntak, anak-anaknya juga akan memiliki marga Simanjuntak.

Pada saat pernikahan, seorang pria Batak tidak bisa menikahi seorang wanita yang memiliki marga yang sama dengannya. Hal ini bertujuan untuk menjaga agar tidak terjadi perkawinan sedarah di antara mereka.

2. Suku Minangkabau

Suku MinangkabauSource: bing.com

Suku Minangkabau di Sumatera Barat memiliki sistem penentuan garis keturunan yang disebut dengan sistem matrilineal. Artinya, keturunan dihitung dari pihak ibu. Seorang anak dianggap sebagai keturunan dari ibunya dan keluarga ibunya. Seorang laki-laki juga akan tinggal di rumah keluarga ibunya setelah menikah, bukan di rumah keluarga istrinya.

Sistem matrilineal ini juga berpengaruh pada warisan. Warisan akan diberikan kepada anak perempuan, karena mereka dianggap sebagai penerus keluarga dan rumah tangga.

3. Suku Dayak

Suku DayakSource: bing.com

Suku Dayak di Kalimantan memiliki sistem penentuan garis keturunan yang disebut dengan sistem patrilineal. Artinya, keturunan dihitung dari pihak ayah. Nama belakang seorang anak juga diambil dari nama ayahnya.

Pada saat pernikahan, seorang pria Dayak juga tidak bisa menikahi seorang wanita yang memiliki nama belakang yang sama dengannya. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar tidak terjadi perkawinan sedarah di antara mereka.

4. Suku Toraja

Suku TorajaSource: bing.com

Suku Toraja di Sulawesi Selatan memiliki sistem penentuan garis keturunan yang disebut dengan sistem patrilineal. Namun, sistem ini sedikit berbeda dengan sistem patrilineal pada umumnya. Di sini, seorang anak dianggap sebagai keturunan dari ayahnya dan dari keluarga ibunya. Hal ini disebut dengan sistem bilateral.

Sistem bilateral ini juga berpengaruh pada warisan. Warisan akan dibagi secara merata antara anak laki-laki dan perempuan.

5. Suku Bali

Suku BaliSource: bing.com

Suku Bali memiliki sistem penentuan garis keturunan yang disebut dengan sistem patrilineal. Namun, ada pengecualian pada kasus anak laki-laki yang merupakan putra bungsu. Anak laki-laki yang merupakan putra bungsu akan dianggap sebagai penerus keluarga dan akan mewarisi semua harta orang tuanya.

Sistem ini juga berpengaruh pada pemilihan raja di Bali. Raja di Bali dipilih berdasarkan garis keturunan dari ayah ke anak laki-laki tertua yang masih hidup.

6. Suku Nias

Suku NiasSource: bing.com

Suku Nias di Sumatera Utara memiliki sistem penentuan garis keturunan yang disebut dengan sistem matrilineal. Namun, sistem ini sedikit berbeda dengan sistem matrilineal pada umumnya. Di sini, seorang anak dianggap sebagai keturunan dari ibunya dan dari keluarga ayahnya. Hal ini disebut dengan sistem bilateral.

Sistem bilateral ini juga berpengaruh pada warisan. Warisan akan dibagi secara merata antara anak laki-laki dan perempuan.

7. Suku Sasak

Suku SasakSource: bing.com

Suku Sasak di Lombok memiliki sistem penentuan garis keturunan yang disebut dengan sistem patrilineal. Namun, ada pengecualian pada kasus anak laki-laki yang merupakan putra bungsu. Anak laki-laki yang merupakan putra bungsu akan dianggap sebagai penerus keluarga dan akan mewarisi semua harta orang tuanya.

Sistem ini juga berpengaruh pada pemilihan kepala desa di Lombok. Kepala desa di Lombok dipilih berdasarkan garis keturunan dari ayah ke anak laki-laki tertua yang masih hidup.

8. Suku Mentawai

Suku MentawaiSource: bing.com

Suku Mentawai di Sumatera Barat memiliki sistem penentuan garis keturunan yang disebut dengan sistem matrilineal. Namun, sistem ini sedikit berbeda dengan sistem matrilineal pada umumnya. Di sini, seorang anak dianggap sebagai keturunan dari ibunya dan dari keluarga ayahnya. Hal ini disebut dengan sistem bilateral.

Sistem bilateral ini juga berpengaruh pada warisan. Warisan akan dibagi secara merata antara anak laki-laki dan perempuan.

9. Suku Lampung

Suku LampungSource: bing.com

Suku Lampung memiliki sistem penentuan garis keturunan yang disebut dengan sistem patrilineal. Namun, ada pengecualian pada kasus anak laki-laki yang merupakan putra bungsu. Anak laki-laki yang merupakan putra bungsu akan dianggap sebagai penerus keluarga dan akan mewarisi semua harta orang tuanya.

Sistem ini juga berpengaruh pada pemilihan kepala adat di Lampung. Kepala adat di Lampung dipilih berdasarkan garis keturunan dari ayah ke anak laki-laki tertua yang masih hidup.

10. Suku Aceh

Suku AcehSource: bing.com

Suku Aceh memiliki sistem penentuan garis keturunan yang disebut dengan sistem patrilineal. Namun, ada pengecualian pada kasus anak laki-laki yang merupakan putra bungsu. Anak laki-laki yang merupakan putra bungsu akan dianggap sebagai penerus keluarga dan akan mewarisi semua harta orang tuanya.

Sistem i
ni juga berpengaruh pada pemilihan kepala adat di Aceh. Kepala adat di Aceh dipilih berdasarkan garis keturunan dari ayah ke anak laki-laki tertua yang masih hidup.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap suku di Indonesia memiliki sistem penentuan garis keturunan yang berbeda-beda. Sistem ini sangat penting dalam kehidupan masyarakat hukum adat di Indonesia, karena dapat mempengaruhi berbagai hal, seperti pernikahan, warisan, dan pemilihan kepala adat.

Related Post

Leave a Comment