Siap Tidak Siap, ASN Harus Menghadapi Tantangan di Era Digital 

0
219

Bumiayu.id – Masifnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat sebagian besar sistem pekerjaan semakin cepat kinerjanya. Hal inilah yang menjadikan masyarakat pekerja, khususnya para Aparatur Sipil Negara (ASN) harus bekerja lebih “ekstra” pada awalnya. Pasalnya, tidak semua ASN mampu mengikuti perubahan sistem kerjanya dengan cepat sehingga kesabaran belajar diperlukan.

Siap Tidak Siap, ASN Harus Menghadapi Tantangan di Era Digital

Sadar telah memasuki era Revolusi Industri 4.0, pemerintah dengan sigap mendayagunakan perkembangan TIK guna mengikuti atmosfir digitalisasi. Tak hanya sekedar ikut-ikutan saja, perubahan sistem kerja pemerintahan yang dilakukan secara serentak ini rupanya juga berdasar pada alasan-alasan logis lainnya. 

Lantas, seperti apa dan bagaimana kesiapan para ASN menghadapinya transformasi ini?. Simak informasi menarik berikut sampai selesai!

Mengapa Pemerintah Melakukan Transformasi Digital pada Sistem Kerja ASN?

Menghadapi tantangan digitalisasi, pemerintah Republik Indonesia berupaya melakukan transformasi digital lewat perubahan tata kelola pemerintahan dengan alasan mendasar. Berikut ini merupakan rangkuman beberapa alasannya.

  1. Lebih adaptif dan dinamis

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa dengan mengikuti perubahan digitalisasi pada ranah pekerjaan maka sistem birokrasi pemerintahan bisa jauh lebih adaptif dan dinamis. Tak hanya sistemnya saja, tranformasi ini pun diharapkan bisa menggenjot para ASN agar makin berkembang sumber dayanya selama menghadapi tantangan-tantangan baru digitalisasi.

2. Lebih efisien dalam menyelesaikan tugas-tugas

Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi dan informasi, segala tugas-tugas bersifat administratif, seperti surat menyurat, pelaporan dokumen, dan lain sebagainya. Jika dulunya kita kerap melihat banyak tumpukkan surat atau dokumen saat pelayanan di suatu instansi, hal itu akan jarang kita temui sekarang. Sebab, semuanya kini telah terintegrasi dalam komputer.

Lantaran semakin efisiennya tugas para ASN, bukan berarti pekerjaan semakin sedikit, lho. Seperti yang disampaikan Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika RI pada pertengahan tahun 2019 lalu, kini peran ASN telah mengalami perubahan dari awalnya sebagai regulator saja, akhirnya berubah menjadi fasilitator sekaligus akselerator.

3. Kinerja instansi atau organisasi makin optimal

Lantaran sistem administrasi sudah kian efektif dan efisien, akibatnya sekarang kinerja instansi atau organisasi pemerintahan bisa menjadi lebih optimal. Tak hanya karena transformasi teknologi, proses belajar pada perubahan itulah yang salah satunya membuat kualitas SDM bisa kian optimal.

4. Meningkatkan kualitas pelayanan publik

Selain dari sisi internal, alasan lain yang mendasari transformasi digital sektor pemerintahan adalah adanya harapan untuk semakin meningkatkan kualitas pelayanan publik. Dengan berbekal efisiensi dan kecepatan layanan, maka harapannya kepuasan publik terhadap servis para pegawai pemerintah bisa semakin tinggi.

Pada sebuah kesempatan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara & Reformasi Birokrasi, Tjahjo Kumolo juga menuturkan alasan mengapa pemerintah melakukan penyesuaian sistem kerja pegawai ASN. Upaya tersebut dilakukan karena pemerintah ingin penyelenggaraan pemerintahan tetap berjalan baik sekaligus mencegah penyebaran virus Covid-19 di lingkungan instansi pemerintah.

Bagaimana Para ASN Menyikapi Perubahan Kerja Ini?

Tak dapat dipungkiri bahwa memang pada masa-masa awal perubahan sistem kerja digital akan terjadi semacam ‘kemacetan’. Pasalnya, Aparatur Sipil Negara, baik dari PNS maupun PPPK yang terdiri dari berbagai generasi tersebut dituntut untuk  segera memiliki kompetensi digital agar tidak tersingkir oleh teknologi. 

Siap Tidak Siap, ASN Harus Menghadapi Tantangan di Era Digital

Seperti yang dipaparkan Tjahjo Kumolo bahwa selama memasuki era digital, pergeseran kompetensi semakin nyata terlihat. Hal ini disebabkan, canggihnya teknologi mampu mengeliminasi tenaga sumber daya manusia. Untuk itu, sebagai gantinya adalah para ASN harus memiliki kompetensi kepemimpinan digital yang terdiri dari kapasitas manajerial serta budaya digital.

Hal ini juga didukung oleh pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani yang menegaskan bahwa ASN pada masa ini harus mengubah mindset serta perilakunya agar dapat beradaptasi dengan revolusi industri 4.0. hal yang bisa dilakukan antara lain mempelajari, memanfaatkan, dan mengembangkan kecepatan teknologi yang diinternalisasikan dalam pekerjaan sehari-hari.

Untuk menghadapi tingginya tantangan global masa kini, semua aparatur negara khusunya ASN milenal dituntut lebih agar bisa menjadi generasi pembelajar atau lifelong learner. Potensi yang generasi ini miliki tentunya bisa dibilang jauh lebih adaptif jika dibanding generasi sebelumnya. 

Bukan tanpa alasan, tuntutan ini diupayakan agar menjadikan sistem pemerintahan Republik Indonesia bisa lebih ramah zaman dan mampu bersaing di tingkat global. Jika sudah begitu, bukankan keuntungan  atau manfaat juga akan diterima seluruh lapisan masyarakat?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here