Chrome OS Diakui OS Komputer Terpopuler Setelah Windows

  • Whatsapp

Bumiayu.id – Di Indonesia mungkin masih belum banyak yang menggunakan Chrome OS yang ramai dibicarakan di Internet. Chrome OS sendiri awanya digunakan khusus untuk CHromebook. OS besutan Google di gadang menjadi OS kedua terpopuler setelah Microsoft Windows.

Chrome OS ini lebih banyak dipakai dibanding macOS, sistem operasi yang dipakai Apple untuk perangkat Mac, baik MacBook, iMac, Mac Mini, dan Mac Pro. Market share Chrome OS pada Q4 2020 lalu hampir dua kali lipat lebih besar dibanding macOS. Berdasarkan data IDC, sampai akhir 2020 lalu untuk perangkat desktop, laptop, dan workstation, penjualan perangkat dengan sistem operasi Chrome OS sudah menyalip penjualan perangkat macOS.

Read More

Sistem operasi buatan Google itu menyalip Apple pada Q2, yaitu dengan market share 10% berbanding 7,6%. Pertumbuhan itu terus terjadi sampai Q3 dan Q4, dengan selisih terbesar terjadi pada Q4 di mana Chrome OS punya market share 14,4% sementara macOS hanya 7,7%.

Penguasa kelas ini tentulah Microsoft dengan OS Windows-nya, meski market share Q1-nya menurun jika dibanding Q4. Yaitu 87,5% pada Q1, 81,7% pada Q2, 78,9% pada Q3, dan 76,7% pada Q4.

Hanya saja untuk kelas desktop, Chrome OS memang masih kalah dibanding macOS. Menurut StatCounter, di kelas desktop sampai Januari 2021, macOS masih unggul jauh dibanding Chrome OS, yaitu 16,91% berbanding 1,91%.

Wajar memang, tak banyak perangkat desktop yang menggunakan Chrome OS, dan lebih banyak perangkat laptop yang menggunakan sistem operasi berbasis browser Google Chrome ini.

Sebagai informasi, dibanding 2019, pertumbuhan market share Chrome OS di 2020 melesat empat kali lipat. Jadi apa yang membuat Chrome OS bisa menjadi sangat populer?

Peningkatan market share Chrome OS ini berasal dari banyaknya pengguna Chromebook untuk keperluan pendidikan di berbagai negara, misalnya di Amerika Serikat.

Menurut analis Gartner Ranjit Atwal, pertumbuhan besar Chrome OS ini terjadi sejak pandemi, yang membuat banyak sekolah dan lembaga pendidikan lain tutup dan siswanya harus belajar dari rumah.

Alhasil banyak orang tua mencari perangkat yang bisa dipakai untuk belajar jarak jauh dengan harga yang murah. Tak cuma itu, lembaga pendidikan seperti sekolah pun melakukan pembelian dalam jumlah yang besar.

“Tak diragukan lagi ada banyak konsumen yang terpaksa membeli dan membeli notebook yang lebih murah untuk anaknya, jadi mereka tak ingin mengeluarkan uang dalam jumlah besar,” ujar Atwal, seperti dikutip detikINET dari BBC.

Jadi bisa dibilang, Chrome OS, atau tepatnya Chromebook adalah perangkat yang tepat, di waktu yang tepat, dan fungsi yang tepat pada masa pandemi.

Dan kini, Chromebook pun bakal dipakai di institusi pendidikan di Indonesia, setelah Mendikbudristek Nadiem Makarim mengatakan pemerintah mengalokasikan dana Rp 2,4 triliun untuk pengadaan 240 ribu Chromebook untuk sekolah.

Dana itu digunakan untuk pengadaan paket teknologi informasi komunikasi, seperti laptop dan berbagai perangkat pendukungnya. Contohnya router, printer, dan scanner.

Pengadaan peralatan TIK ini diambil dari vendor di dalam negeri yang memenuhi persyaratan TKDN. Jumlah unit yang diterima tiap sekolah akan berbeda bergantung usulannya mulai dari level SD, SMP, SMA, SMK, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

 

 

Related posts