Adat Istiadat Warga Brebes

Bumiayu.ID – Adat istiadat yang terdapat di tengah warga Brebes, tidak lepas dari budaya serta tradisi yang telah menempel dalam keseharian masyarakatnya. Adat istiadat itu,

Administrator

Bumiayu.ID – Adat istiadat yang terdapat di tengah warga Brebes, tidak lepas dari budaya serta tradisi yang telah menempel dalam keseharian masyarakatnya. Adat istiadat itu, senantiasa dijiwai semangat kegotongroyongan, kebersamaan serta silaturahmi. Sebagian aktivitas adat istiadat yang terdapat di warga, sampai saat ini masih senantiasa dilestarikan. Semacam sedekah bumi, sedekah laut, halal bihalal, khaul serta adat- adat yang lain.

Adat istiadat yang terdapat saat ini ini, butuh dilestarikan supaya generasi muda tidak hingga tidak ketahui, apa serta gimana adat istiadat yang terdapat di lingkungannya. Sebab pada dasarnya, adat istiadat itu mempunyai arti serta pelajaran hidup untuk masyarakatnya. Sehingga harapannya, kala generasi muda memahami serta menguasai adat istiadatnya, tidak hanya tradisi itu senantiasa lestari, pula yang sangat berarti merupakan nilai serta ajaran adat istiadat itu sanggup diejawantahkan dalam kehidupan tiap hari.

Sedekah Bumi

Sedekah bumi, berarti bersedekah atas hasil bumi ataupun pertanian yang diperolehnya. Sedekah dicoba sehabis masa panen, umumnya sehabis panen padi baru diselenggarakan sedekah bumi. Yang wajib digarisbawahi, kalau sedekah bumi ini, bukan sedekah kepada bumi ataupun tanah. Penafsiran sedekah bumi ini kerap disalah artikan, seolah- olah bumi ataupun tanah yang diberi sedekah, sehingga kerap memunculkan pro serta kontra di tengah warga. Karenanya, penafsiran sedekah bumi ini wajib dipaparkan serta latar balik adat istiadat ini pula butuh di informasikan. Sehingga tidak hingga mencuat penafsiran yang salah atas adat istiadat sedekah bumi.

Sedekah bumi ini, umumnya diwarnai dengan pentas wang kulit ataupun wayang golek. Lakon yang dibawakan dalam pentas wayang ini, umumnya cocok dengan iktikad serta tujuan sedekah bumi tersebut, ialah terpaut dengan ungkapan syukur kepada Tuhan, atas hasil yang diperoleh dari bumi Tuhan tersebut berbentuk hasil- hasil pertanian yang melimpah.

Penerapan aktivitas sedekah bumi ini, biayanya dicoba secara bergotong royong, iuran segala masyarakat, spesialnya para petani. Posisi digelarnya sedakah bumi, umumnya di pusat desa, semacam di balai desa ataupun juga lapangan desa, ataupun pula di dekat pintu air yang ialah pusat pengairan di desa tersebut. Sebagian besar desa di Kabupaten Brebes masih menyelenggarakan tradisi ini. Tetapi sebagian desa telah tidak sering menggelar tradisi, sebab mahalnya bayaran penyelenggaraan. Sedangkan keadaan ekonomi masyarakat, spesialnya petani masih memprihatinkan. Sehingga tradisi sedekah bumi ini tidak diselenggarakan tiap tahun, tetapi cuma dicoba sebagian tahun sekali, bergantung suasana serta keadaan ekonomi warganya.

Dalam pentas wayang itu, masyarakat spesialnya petani, berbondong- bondong membagikan sedekah dalam wujud ambeng buat dimakan bersama- sama. Ambeng ataupun santapan bersama lauk- pauknya diberikan dikala pentas itu berlangsung. Tidak hanya pentas wayang, umumnya pula diisi dengan pengajian, ialah dengan mengundang penceramah, baik kiai ataupun ustdaz buat membagikan mauidhoh khasanah, pelajaran yang baik.

Sedekah Laut

Sedekah laut tidak berbeda jauh dengan sedekah bumi. Penafsiran sedekah laut merupakan bersedakah atas hasil laut yang diperoleh para nelayan. Penafsiran sedekah laut, dikala ini pula terdapat kesalahpahaman, di mana sedekah laut kerap dikira bersedekah kepada laut. Antara lain dengan melarung kepala kerbau, sesaji serta sebagian santapan.

Sedekah laut ini, pula umumnya diselenggarakan dikala petani menikmati hasil tangkapan yang bagus. Mereka bergotong royong menyisihkan sebagian hasil dari usahanya di laut buat bersedekah bersama- sama. Semacam halnya sedekah bumi, para nelayan itu membuat ambeng ataupun tumpeng buat di makan bersama. Salah satunya dengan memotong kerbau, serta potongan kepala kerbau tersebut dilarung ke tengah laut. Sedangkan daging kerbaunya dimakan bersama- sama.

Dalam perkembangannya, tradisi sedekah laut ini mulai beralih di sebagian daerah pusat nelayan. Yang sebelumnya ialah sedekah, ungkapan rasa syukur para nelayan atas hasil tangkapan lautnya, saat ini berganti jadi acara laut. Di mana nilai- nilai religius dari penerapan sedekah laut itu mulai lenyap. Yang timbul malah terkesan acara pora, atas apa yang diperoleh sepanjang di laut. Mereka berpesta pora, berhura- hura sendiri. Beberapa hiburan juga jadi ajang acara pora tersebut, semacam hiburan musik dangdut, serta sejenisnya.

Tradisi sekedah laut di Kabupaten Brebes yang masih aktif sampai dikala ini antara lain di Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba, Desa Pengaradan serta Desa Krakahan, Kecamatan Tanjung, Desa Prapag, Kecamatan Losari.

Khaul

Khaul berarti memeringati satu tahun kematian seorang. Tradisi ini ialah salah satu tradisi yang dibesarkan umat Islam di Indonesia, tercantum di Kabupaten Brebes. Khaul umumnya dicoba buat memeringati kematian tokoh- tokoh warga, semacam kiai serta ulama besar yang diakui oleh warga.

Tradisi khaul itu ialah dengan menggelar pengajian, yang lebih dahulu diisi dengan bacaan- bacaan tahlil, yang diiringi segala partisipan yang muncul. Tempat penerapan khaul umumnya di lingkungan makam orang yang dikhauli tersebut ataupun di rumah keluarga, yang umumnya pula terdapat pesantren.

Tradisi khaul ini, pula terdapat yang diselenggarakan bersama- sama masyarakat satu desa. Masyarakat bergotong royong, iuran bayaran penyelenggaraan khaul bersama- sama tersebut. Sehingga bukan cuma seorang saja yang dikhauli, tetapi segala masyarakat yang sudah wafat di desa tersebut dikhauli bersama, ialah dengan menggelar tahlil bersama serta dilanjutkan dengan tausiyah keagamaan.

Bada Kupat serta Halal Bihalal

Penduduk Kabupaten Brebes yang kebanyakan beragama Islam, mempunyai 2 hari raya, ialah Hari Raya Idul Fitri serta Hari Raya Idul Adha. Hari raya yang dirayakan lumayan meriah ialah Hari Raya Idul Fitri, di mana sebagian besar masyarakat yang merantau berupaya buat kembali kampung tamannya tiap- tiap, tercantum di Kabupaten Brebes. Sehingga timbul tradisi mudik tiap tahun, ialah saat sebelum Lebaran berlangsung, umumnya mereka mudik seminggu saat sebelum Lebaran.

Sehabis memperingati Idul Fitri, satu minggu setelah itu ataupun 7 hari sehabis Idul Fitri, terdapat perayaan bada Syawal ataupun Bada Kupat. Tradisi ini dicoba sehabis umat Islam yang sudah meryakan Idul Fitri, dilanjutkan dengan puasa sunnah sepanjang 6 hari. Umumnya masyarakat membuat ketupat ataupun kupat buat dimakan bersama- sama, baik di rumah ataupun musholla. Sehingga banyak masyarakat yang menyebutnya selaku Bada Kupat.

Tidak hanya itu, penerapan Hari Raya Idul Fitri pula diramaikan dengan halal bihalal. Halal bihalal ini pula ialah salah satu tradisi umat Islam di Indonesia, tercantum Kabupaten Brebes. Halal bihalal ini ialah wahana buat silih bersilaturahmi, baik antara keluarga, rekan, teman ataupun lembaga pemerintahan. Halal bihalal ini dicoba sepanjang bulan Syawal berlangsung. Tradisi halal bihalal ini berisi jadwal silih maaf- memaafkan serta salam- salaman, dan silih memahami di antara keluarga besar, yang kadangkala telah tersebar di tempat- tempat yang berbeda. Dengan halal bihalal, tali silaturahmi antar keluarga dapat senantiasa berjalan. Apalagi keluarga yang sudah tinggal di luar kota ataupun merantu sampai ke luar wilayah juga rela tiba buat berhalal bihalal bersama keluarga besarnya.

Manten Tebu

Manten tebu, bukan berati acara perkawinan seorang dengan latar balik tebu. Namun ialah upacara ataupun tradisi yang dicoba saat sebelum penggilingan tebu di pabrik gula ini diawali. Diucap manteh tebu, lantaran dalam tradisi itu terdapat iriang- iringan tebu, yang dirias semacam pengatin, terdapat yang dirias semacam pengantin wanita serta terdapat yang dirias semacam pengantin pria.

Tradisi pengantin tebu ini cuma terdapat di wilayah yang mempunyai pabrik tebu. Di Kabupaten Brebes, tradisi ini masih berlangsung di Pabrik Gula( PG) Jatibarang. Sedangkan PG Banjaratma, yang telah gulung tikar, otomatis tidak terdapat lagi tradisi manten tebu.

Tradisi manten tebu ini, bertujuan supaya sepanjang proses penggilingan tebu jadi gula, berjalan mudah tanpa hambatan. Tidak hanya itu, pula diharapkan hasil rendemen tebunya pula baik, sehingga petani dapat menciptakan pemasukan yang baik pula.

Ronggeng Kaligua

Ronggeng Kaligua merupakan tradisi yang dicoba dikala ulang tahun PTPN IX Kaligua. Dalam ulang tahun itu, senantiasa ditampilkan tarian ronggeng. Di mana tarian ronggeng ini, tadinya dikala perkebunan Kaligua didirikan, dimaksudkan buat menghibur para pekerja. Sehingga para pekerja waktu itu, tidak bosan serta malas- malasan dalam bekerja, sebab telah dihibur dengan tarian ronggeng.

Puputan Rumah

Puputan rumah berarti ciri pembangunan rumah itu sudah berakhir serta siap dihuni pemiliknya. Dalam penerapannya, puputan umumnya dicoba dikala owner rumah itu hendak memiliki hajatan. Saat sebelum hajatan itu diselenggarakan, rumah yang belum diselenggarakan puputan, hendak mengadakan puputan rumah terlebih dulu. Tetapi untuk yang mempunyai harta yang lumayan, umumnya puputan rumah dicoba dikala rumah itu dihuni. Sehingga sesuatu dikala hendak diselenggarakan hajatan di rumah tersebut, tidak butuh lagi diselenggarakan puputan rumah.

Puputan rumah itu sendiri ialah bentuk rasa syukur kepada Tuhan, yang sudah memberinya rejeki, sampai dapat membuat rumah sendiri. Tidak hanya itu, pula bertujuan supaya owner rumah sepanjang menempati rumah itu senantiasa diberi keberkahan serta keselamatan. Keluarga yang menempati rumah itu diberi kesehatan serta proteksi dari Tuhan. Puputan rumah, pula dalam rangka tolak bala, memohon proteksi kepada Tuhan supaya dijauhkan dari seluruh bencana.

Upacara Adat Ngasa

Upacara adat Ngasa Jalawastu di Desa Cisereuh, Kecamatan Ketanggungan ini ialah salah satu adat aset Jaman Hindu. Di mana upacara itu diselenggarakan tiap Selasa Kliwon, mangsa kesanga, serta cuma diselenggarakan satu tahun sekali. Upacara Ngasa sendiri selaku bentuk rasa syukur yang diperuntukan kepada Batara Windu Buana. Ialah dengan bawa hasil panen ke sesuatu tempat, yang diucap Gedong Pesarean.

Terdapat sebagian catatan, tidak hanya aset tradisi serta adat Hindu yang masih dilestarikan itu, ialah awal masyarakatnya telah beragama Islam. Masyarakatnya berbahasa Sunda, setelah itu bangunan yang terdapat di kawasan tersebut tidak boleh memakai semen. Bila dilanggar, dapat terjalin suatu yang tidak di idamkan.

Tidak hanya di Jalawastu, upacara adat Ngasa pula diselenggarakan di Desa Gandoang Kecamatan Salem. Upacara adat ini pula telah diresmikan selaku peninggalan budaya tidak barang, yang diberikan Departemen Pembelajaran serta Kebuadayaan Nasional pada tahun 2019. Adat Istiadat Warga Brebes

Administrator

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Curabitur leo ligula, posuere id fringilla sed, consequat nec turpis. Curabitur vulputate consequat aliquam. Curabitur consectetur suscipit mauris eu efficitur. Sed malesuada tortor id metus faucibus, ut placerat mi vestibulum.

Related Post

Leave a Comment